Indahnya Geologi

Indahnya Geologi

Sabtu, 28 Mei 2016

Mengapa Memilih Menjadi Geologist (Ahli Geologi)

Tulisan ini terutama untuk adik-adik yang masih duduk (atau berdiri) di SMA, atau yang lagi galau, udah lulus SMA tapi masih bingung milih jurusan, "atau yang lagi galau sudah lulus SMA tapi masih jomblo"... yang terakhir gak ada hubungan ya, hehe.

Setelah lulus SMA, perjuangan untuk babak baru segera dimulai. Ingat, pemilihan jurusan yang tepat sangatlah penting, dan  sangat berpengaruh untuk pekerjaan dan kehidupan kita di masa yang akan datang. (kecuali kalo berpikiran mau pindah-pindah jurusan, biar lebih banyak pengalaman, tapi bayar kuliah sendiri ya..)

Berhubung kerjaan sekarang (hobi juga) adalah Geologist (Petroleum Geologist),  jadi saya mau sharing dikit tentang apa enaknya jadi Geologist, siapa tau nanti ada yang terpengaruh.

1. Bukan cuma belajar ilmu pasti (science), tapi juga seni (art), bahkan olah raga
Selain belajar (lagi) Ilmu Fisika, Kimia, dan Biologi (jangan kuatir, ketiga ilmu itu nggak serumit yang ada di jurusan MIPA), Geologi juga memfasilitasi kemampuan dan hobi-hobi lain seperti jalan-jalan, naik gunung, melukis sketsa pemandangan, berburu fosil dinosaurus, fosil manusia purba (agak lebay, tapi nyata), fotografi, bahkan kuliner.
Banyak cabang ilmu lain yang didasari oleh ilmu geologi, contohnya geofisika, geokimia, paleontologi, vulkanologi, dan logi-logi yang lain. So, misalnya kita suka sama pelajaran fisika, bisa difokuskan ke arah geofisika, kalau suka kimia, bisa diarahkan ke geokimia, kalo suka biologi, bisa ke paleontologi, kalau sukanya naik gunung, bisa jadi vulkanologist atau ahli geothermal, kalo suka maen air bisa jadi hydrologist dan sebagainya- dan sebagainya.
Tapi kalo suka sama si dia, ungkapin saja dengan berani, sebelum "ditikung" yang lain.


Volcanologist sedang mengambil sampel lava (en.wikipedia.org)
Dua orang Paleontologist sedang menggali fossil. (dkfindout.com)


Kalo berminat jadi geologist di bidang minyak dan gas, kemampuan geofisika dan geokimia akan sangat-sangat bermanfaat.

2. Mengetahui sejarah bumi
Dengan melihat fenomena alam, atau spesifiknya fenomena geologi yang terjadi sekarang, misalnya sungai mengalir, ombak menderu, hujan mengikis, dan arus menggerus ( maksa puitis) seorang geologist juga bisa memperkirakan fenomena geologi yang telah terjadi di masalalu (tapi bukan dukun ya). Kejadian ribuan, jutaan, bahkan miliaran tahun yang lalu, akan meninggalkan jejak-jejak pada batuan. Contohnya struktur, tekstur dan komposisi batuan, sisa-sisa makhluk hidup yang sudah menjadi fosil (ini ada kaitan dengan biologi), mineral-mineral yang mengandung unsur radioaktif, dan banyak lagi bukti-bukti lain. Mereka semua yang akan membisikkan cerita masalalu kepada seorang geologist. Jadi bukan hanya hadiah-hadiah ulang tahun dari mantan saja yang bisa mengisahkan cerita masalalu.

Contoh sederhana, kita menemukan fosil kerang (Bivalve) di atas bukit, fosil ini memberitahu kita bahwa dahulu kala, daerah ini ada di bawah permukaan laut, kemudian terangkat ke posisi sekarang. Dengan tambahan data-data lain kita bisa mengetahui kapan daerah tersebut terangkat, dsb.
sumber foto: jurassiccoast.org
"Kalian mungkin melihat keindahan alam hanya dari yang nampak saja, tapi kami melihatnya menerawang ke dalam hingga terbayang pembentukannya"

3. Mengetahui apa-apa yang tersembunyi di bawah permukaan bumi
Dengan melihat kumpulan data seperti, data satelit, data geofisika; seismik, gravity, magnetic, log, dan data analisis geokimia, serta didukung dengan hasil pengeboran yang sudah ada (kalo ada), seorang geologist bisa membuat model kondisi bawah permukaan bumi. Inilah mengapa seorang geologist bisa memperkirakan lokasi dan kedalaman serta volume cadangan minyak dan gas, ataupun mineral di bawah permukaan bumi.

Contoh model bawah permukaan. sumber: mve.com

4. Sering jalan-jalan
Seorang geologist nggak melulu menghabiskan waktunya di kantor, berkutat didepan komputer, tapi sesekali juga berkunjung ke lapangan/fieldtrip istilahnya. Misalnya mengunjungi lokasi pengambilan data seismik (secara sederhana seismik itu adalah metode geofisika, dengan gelombang, untuk penggambaran kondisi bawah permukaan bumi). Mengunjungi lokasi pengeboran baik di darat maupun di laut, lokasi pengambilan contoh rembesan minyak, sampel batuan, dan lain-lain. Kebanyakan lokasi-lokasi ini tersebar di daerah-daerah seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. Jadi, secara tidak langsung, kita bisa jalan-jalan gratis, mencoba bermacam-macam jenis transportasi, mulai dari jalan kaki sampai pesawat super jumbo dan helikopter (tapi jangan lupa kerjaan tetap harus beres). Nah, sambil kelapangan ini, hobi fotografi, melukis morfologi, sampai kuliner bisa dikembangkan. Bahkan, kalau beruntung bisa berkunjung ke tempat-tempat wisata terkenal yang merupakan tempat mempelajari ilmu geologi yang baik juga.
Selain jalan-jalan karena tugas lapangan, tidak jarang juga geologist ditugaskan dalam jangka waktu tertentu ke cabang perusahaan di negara lain.


Fieldtrip ke Raja Ampat, Papua Barat

Saat weekend (libur), sempatkan jalan-jalan ke Balvedere di Vienna, Austria
5. Kesempatan berinteraksi dengan banyak orang dan belajar ragam budaya
Karena seringnya jalan-jalan, maka kesempatan untuk berinteraksi dan mengenal keanekaragaman budaya menjadi sangat besar. Pola pikir menjadi semakin berkembang, dan punya kesempatan untuk mempelajarai hal-hal baru yang bermanfaat di tempat-tempat lain, trus bisa diterapkan di daerah kita. Positif sekali kan.

Foto bersama adek-adek SD di Misool, Papua Barat

Interaksi antar bangsa di lingkungan pengeboran oil and gas  di Val D'Agri, Italia

Pastinya masih ada hal-hal menarik lain jika kamu jadi geologist, tapi pada postingan kali ini saya share 5 poin dulu. Mudah-mudahan ada kesempatan nyambung lagi di postingan berikutnya.

Salam hangat.

Cerita Sebelumnya:
http://azim-indonesia.blogspot.it/2016/05/mineral-geologist-atau-petroleum.html



Selasa, 24 Mei 2016

Mineral Geologist atau Petroleum Geologist

Mau kerja di oil dan gas, atau di tambang mineral ya???

Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di dalam pikiran seorang mahasiswa geologi. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang dua hobi ini, yang sama-sama pernah saya lakukan, yah walaupun masing-masing baru beberapa tahun saja.

Tiga tahun yang lalu (kurang beberapa bulan lagi),1 Oktober 2013, saya mengalami perubahan pekerjaan, yang semula adalah seorang Mineral Geologist berubah menjadi seorang Petroleum Geologist. Sebenarnya masih sama-sama geologist sih, ya cuma pindah jalur dikit aja, intinya sih sama-sama Tukang Batu. Bagi saya perubahan ini lumrah-lumrah saja (kalo kata Ibu Rabainah, guru saya di SMA 5 Jambi dulu, ini sah-sah saja, hehe). Toh masih sama-sama belajar batu, yang sebelumnya lebih fokus ke batuan beku, sekarang fokus ke batuan sedimen. Pada saat yang sama segala jenis batuan; beku, sedimen, dan metamorf tetap harus dikuasai bro and sis (ala-ala jualan onglen). Karena mereka bertiga pastinya memiliki keterkaitan yang erat, ya kayak sodara gitulah. Dalam bahasa mudahnya, untuk mempelajari secara mendalam salah satu dari tiga kelompok batuan itu, alangkah baiknya kalo kita juga mengerti secara baik dan benar dua kelompok batuan lainnya.

Karena sudah melewati dua jenis pekerjaan ini, sedikit-sedikit saya bisa melihat beberapa persamaan dan perbedaan dalam pekerjaan ini, mungkin untuk adek-adek yang lagi kuliah di Jurusan Geologi, yang nyasar membaca tulisan ini bisa dapat gambaran dari kedua hobi ini. Mari kita kupas lebih lanjut...

Beberapa Persamaan dan Perbedaan kerjaan Mineral Geologist dan Petroleum Geologist (sekalian biar lebih jelas, karena keduanya bukan seperti perbedaan hitam dan putih)

1. Objek yang dipelajari adalah sama-sama Batu? (kerjaan geologi itu unik lho, kita kerja, tapi faktanya kerjaan kita itu belajar, belajar batu, termasuk batu akik juga, kalo hobi... hehe)

Seperti yang sudah di singgung di atas, kedua jenis pekerjaan ini sama-sama mempelajari batuan. Bedanya untuk Mineral Geologist porsinya lebih untuk mempelajari mineralisasi pada batuan beku, misalnya mempelajari intrusi batuan beku, hidrothermal, dll., yang pada prosesnya bisa mengendapkan emas (gold) , tembaga (copper), timah hitam (lead), seng (zinc), dan mineral-mineral yang bernilai ekonomis lainnya,  kebetulan selama kerja saya pernah nyicip pengalaman nyari barang-barang tambang itu. Dan yang paling penting bagi perusahaan; banyaknya cadangan yang akan ditemukan harus ekonomis, namanya juga perusahaan, pasti pengennya untung. Sedangkan pada Petroleum Geologist lebih banyak fokus ke batuan sedimen;  Karena sebagian besar komponen dari Petroleum System (istilahnya) terdiri dari batuan sedimen (tapi ndak selalu ya). Misalnya Batuan Induk (Source Rock) yang terkenal dari batuan sedimen shale yang kaya unsur organic carbon,  trus.. Reservoir, biasanya adalah batuan sedimen klastik seperti batupasir, atau batuan sediment non-klastik seperti batugamping. Batuan tudung (penutup) atau lebih dikenal dengan nama seal rock atau caprock, biasanya tersusun oleh batuan-batuan sedimen yang memiliki  permeabilitas yang sangat sangat rendah, jadi mencegah hidrocarbon untuk kabur menuju permukaan (itu baru 3 elemen petroleum system, sisanya trap dan migration).
Tapi, untuk mempelajari dengan baik dan benar batuan-batuan tersebut, diperlukan juga pemahaman yang baik tentang kelompok batuan lain; baik itu batuan beku, sedimen, ataupun metamorf. Contohnya, bisa aja asal dari kuarsa di batupasir itu dari batuan granit yang lebih tua, kemudian tererosi, tertransportasi, kemudian mengendap dan membatu menjadi batuan sedimen batupasir. Jadi, intinya, kalo masih kuliah, pelajari tiga jenis batu ini baik-baik ya.


core batupasir (sandstone), merupakan contoh reservoir yang baik untuk oil dan gas, biasanya memiliki porositas efektif dan permeabilitas yang baik.
sumber: http://img.chem.ucl.ac.uk


core diorit (diorite), yang sudah teralterasi, dan terpotong-potong oleh quartz  + pyrite + chalcopyrite + dll vein. Diorite porphyry sering ditemukan sebagai host rock untuk endapan porphyry (Cu - Au contohnya)
sumber: http://www.ignaciogeoservices.com.au


Contoh batuan beku lainnya dengan beberapa urat (vein) bisa dilihat di tulisan saya dulu:
http://azim-indonesia.blogspot.it/2012/05/tipe-tipe-urat-pada-endapan-porfiri.html


2. Kerjaan (secara garis besar saja...)

a. Selalu diawali dengan membaca.. Iqro'... Bacalah...
Pada proses eksplorasi mineral, seorang Mineral Geologist biasanya akan memulai dari membaca kondisi geologi secara regional daerah tersebut. Begitu juga dengan Petroleum Geologist. Jadi bagian ini sama ya... Cuma mungkin lagi-lagi fokus bacaannya yang beda. Misalnya Mineral Geologist akan lebih tertarik untuk mengetahui berapa kali intrusi yang sudah terjadi di daerah tersebut, sementara Petroleum Geologist lebih tertarik untuk mengetahui berapa kali proses tektonik (uplift dan subsidence),dan perubahan muka air laut yang sudah terjadi ditempat tersebut. Ya itu salah satu contohnya saja. Selain membaca Geologi Regional, kedua geologist biasanya juga akan membaca kondisi geologi secara lokal, baik dari pekerjaan eksplorasi sebelumnya seperti laporan-laporan pemetaan dan pengeboran, atau juga paper-paper yang dipublikasikan mengenai kondisi geologi daerah tersebut.

b. Kunjungan Lapangan
Baik Mineral Geologist ataupun Petroleum Geologist biasanya akan melakukan kunjungan ke lapangan, ada yang bilang istilahnya reconaisance, jadi biasanya geologist (senior dan junior + kru-kru lain) berkunjung untuk melihat kondisi geologi di lapangan secara umum, lokasi-lokasinya sudah ditentukan dari hasil baca-baca pastinya (di poin pertama). Tidak lupa pula beberapa contoh batuan atau oil seep diambil untuk proses analisis di laboratorium.

c. Studi Secara Rinci
Dibagian ini perbedaannya cukup signifikan:
Dalam mempelajari sebuah area, seorang Mineral Geologist akan pergi ke lapangan langsung, dikenal dengan istilah pemetaan, berdasarkan pengalaman , pemetaan ini saya lakukan hampir setiap hari pada siang hari, dan meng-update data pada malam hari. Terkadang kegiatan pemetaan ini dilakukan juga bersamaan dengan proses pengambil contoh tanah, batuan untuk analisis geokimia. (metode-metodenya banyak, silakan dipelajari). Dari hasil pemetaan rinci ini, ditambah dengan  analisis geofisika, misalnya, gravmag, dll, serta analisis geokimia tanah, batuan dll., kita dapat membuat model geologi bawah permukaan, kemudian digunakan untuk merencanakan lokasi pengeboran. Setelah beberapa pengeboran, analisis core, termasuk analisis kimia, dibuatlah model endapan mineralnnya, dan dihitung seberapa besar cadangannya.

Sedangkan Petroleum Geologist, studi area secara rinci biasanya dilakukan di kantor. Berdasarkan pengalaman juga, hari-hari di kantor dilalui dengan interpretasi seismik baik 2D maupun 3D, tergantung data apa yang kita punya, mengkorelasi data-data sumur yang sudah pernah dibor, mengkombinasi juga dengan data geofisika selain seismik, seperti gravity magnetic data, dll. data geokimia baik dari permukaan maupun dari hasil pengeboran. Jika dirasa data belum juga mencukupi untuk membuat prospek yang siap untuk dibor, biasanya dilakukan lagi pengambilan data; menambah akuisisi seismik 3D pada lokasi prospect, dll. Setelah model geologi selesai dibuat, dan sudah komprehensif dengan elemen-elemen petroleum system yang lain, ya kemudian resource setiap prospek dihitung, baik volumetrik maupun probabilitas kesuksesan (POS) dan kegagalannya (POF), dan tidak lupa keekonomisannya (ini ni yang penting banget buat perusahaan), kemudian diberi peringkat. Setelah oke semua, barulah dilakukan pengeboran. Biasanya apa-apa kegiatan yang akan dilakukan sudah direncanakan dan didiskusikan dengan pemerintah.

Sebenernya gak sesimpel itu, cuma garis besarnya begitulah kira-kira.

d. Pengeboran
Pengeboran eksplorasi yang dilakukan oleh Mineral Geologist (tapi maksudnya yang ngebor bukan dia ya, ada lagi spesialis tukang ngebor, hehe) biasanya dilakukan dibeberapa titik (ini juga tergantung sama budgetnya perusahaan), dan biasanya full coring, semua batuan dari permukaan sampai TD (total depth) diambil contoh batuannya dalam bentuk core, kemudian dianalisis per-interval tertentu (ini juga tergantung perusahaannya ya, kalo saya dulu enak, karena perusahaannya banyak duit, jadi semuanya dianalisis, mantap). Kedalaman pengeboran sangat tergantung dari kedalaman target endapannya. Berdasarkan pengalaman, pengeboran bervariasi dari 200an m sampai 1200an m (kurang lebih).

Sementara itu, seorang Petroleum Geologist, hanya akan melakukan sedikit sekali pengeboran dalam masa eksplorasi, satu, dua, sukur-sukur kalo bisa tiga sumur. Jumlah dan kapan pengeboran ini bisanya sudah dibuat perjanjian dengan pemerintah, dikenal dengan istilah komitmen. Apa saja yang mau dilakukan pun biasanya sudah direncanakan secara umum pada saat pengambilan blok eksplorasi. Lokasi pengeboran, bahkan jadi atau tidaknya mengebor sebuah prospek sangat tergantung dari hasil studi secara rinci blok tersebut. Kalau hasi studinya menyatakan tidak ekonomis, perusahaan bahkan akan memilih untuk membayar pinalti saja ke pemerintah karena tidak memenuhi perjanjian untuk melakukan pengeboran. ketimbang harus melakukan pengeboran yang biayanya sangat mahal (apalagi kalo laut dalam, wow), biaya pinalti bisa dibilah jauh lebih sedikit.
Jika pengeboran jadi dilakukan, berdasarkan pengalaman, pengeboran di perusahaan oil dan gas bisa mencapai kedalam 5000m, bahkan lebih, jauh lebih dalam dibandingkan dengan pengeboran mineral, dan resikonya juga lebih besar. Kebanyakan data-data yang diambil merupakan data-data digital seperti log; gama ray, caliper, resistivity, neutron, density, sonic, dan banyak lagi yang lainya. Sementara contoh batuan berupa core biasanya diambil di interval tertentu saja yang dianggap sebagai target reservoir. Kembali lagi ini sangat tergantung dengan keuangan dan rencana perusahaan, yang bekerja sama dengan pemerintah.

Berbicara tentang teknologi pengeboran, bisa dibilang pengeboran di perusahaan oil and gas lebih advance dibanding pengeboran di mineral. jumlah kru serta luas area - nya pun jauh lebih besar.

Sebenarnya masih banyak lagi rincian ceritanya, tapi secara umum perbedaan pengoborannya kurang lebih seperti itu.



Contoh mesin bor di perusahaan tambang. Salah satu yang tercanggih saat itu (tahun 2013), untuk target-target endapan dalam (>1000m full core drilling), dan sudah digerakkan dengan robot.
sumber: koleksi pribadi



Contoh platform pengeboran lepas pantai (offshore)di sebuah perusahaan minyak.
sumber: http://www.offshoreenergytoday.com/



3. Waktu Kerja
Waktu kerja juga berbeda antara Mineral Geologist dan Petroleum Geologist.  Seorang Mineral Geologist biasanya bekerja dengan sistem on dan off. Maksudnya ada beberapa hari kerja dan kemudian beberapa hari libur. Waktu masih bekerja di perusahaan mineral, saya pernah merasakan rotasi 6 minggu kerja - 3 minggu libur, 4 minggu kerja - 2 minggu libur, dan yang paling mantap 20 hari kerja - 10 hari libur. Jadwal ini kadang juga tidak fix, artinya bisa didiskusikan, misalnya, saya Muslim, dan teman saya Kristen, kami bisa merencakana jadwal libur agar pas dengan hari besar masing-masing, meskipun harus merubah jadwal on-off kerjanya. Tapi kalau seagama dan kita adalah junior, siap-siap bro... lebaran di-site.. hehe.. Alhamdulillah yang ini belum pernah ngerasain..

Berbeda dengan sistem waktu kerja di perusahaan mineral, Petroleum Geologist di perusahaan oil and gas kebanyakan bekerja dengan jadwal 5 hari kerja (senin-jumat) dan 2 hari libur (jumat-sabtu), (kita tidak sedang membicarakan wellsite geologist ya, karena meskipun mereka bekerja di perusahaan oil and gas, mereka juga bekerja dengan sistem on-off kerja (biasanya 2 minggu kerja - 2 minggu libur), dan kalau di Indonesia kebanyakan kantornya di Jakarta, tapi tidak selalu ya.

Selain libur-libur tersebut, biasanya baik Mineral Geologist, maupun Petroleum Geologist, juga dapat jatah cuti tahunan, kalo ini tergantung perusahaannya, berdasarkan pengalaman, saya dapat kesempatan cuti 2 mingguan (bisa diambil terpisah hari-harinya) dalam satu tahun.

4. Penghasilan
Ini agak sensitif, tapi untuk pengetahuan tidak masalah untuk dibandingkan, walaupun tidak bisa digeneralisasi ke perusahaan lain. Berdasarkan pengalaman, untuk gaji yang diterima di perusahaan minyak, untuk level yang kurang lebih sama,  sedikit lebih tinggi dibanding dengan perusahaan mineral. Tapi ada beberapa hal yang lebih baik di perusahaan mineral dalam masalah penghasilan, yaitu bonusnya lebih banyak dan lebih sering. Jadi ujung-ujungnya kurang lebih penghasilannya akan mirip lah alias beti.

Sebagai tambahan, ada yang bilang bekerja di perusahaan oil and gas itu lebih stabil dan lebih aman dibandingkan dengan perusahaan tambang atau mineral. Tapi sepertinya kestabilan posisi kita itu lebih utamanya karena; pastinya rejeki kita dari Allah, performance kita, kondisi perekonomian perusahaan yang bersangkutan, kondisi ekonomi dan politik negara dan dunia, dan banyak sekali faktor-faktornya. Saya sendiri punya teman-teman yang saat ini masih sangat sukses terus bekerja di perusahaan mineral ternama bersama nama-nama hebat, meskipun kondisi harga komoditas mineral masih bisa dibilang belum pulih seperti tahun 2012. Sementara itu perusahaan oil and gas pun pada saat ini juga dalam kondisi yang kurang baik sejak jatuhnya harga minya tahun 2014 lalu yang menyebabkan beberapa teman juga kehilangan pekerjaan. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki untuk kita semua, dan memberikan kita pekerjaan, atau usaha sendiri yang selalu lebih baik dari sebelumnya, aamiin..

Sampai disini dulu, mungkin di lain kesempatan akan ditambahkan. Kalo ada yang kurang ataupun salah mohon  maaf dan dikoreksi, maklum nulisnya pun juga disambi... Salam...


Hal yang gak berubah dari dua jenis hobi di atas yaitu makan-makan dan jalan-jalan...






Kamis, 21 November 2013

Stratigrafi Regional Cekungan Natuna Timur


Natuna, Kepulauan milik negara Indonesia ini secara administratif masuk ke dalam Provinsi Kepulauan Riau.
 bahasa gaulnya Kepri.

Jika kita perhatiakan di peta (Peta 1), Natuna berada jauh di arah utara dan berbatasan langsung dengan beberapa negara, yaitu; sebelah Barat dan Timur dengan Malaysia, dan sebelah Utara dengan Vietnam. sebelah selatan? ya negara kita boss..hehe.

 

Peta 1. Posisi Natuna dalam peta Provinsi Kepulauan Riau
(sumber: Peta batas wilayah Kepri)

Meskipun jauh di utara Indonesia, jangan lupa bahwa Natuna ini adalah tanah air kita. Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang harus selalu kita jaga keutuhannya. 

Bicara Natuna dari sudut pandang ilmu kebumian, geologi, kita akan teringat dengan sumber daya alam berupa GAS yang sangat besar di sana. Secara sederhana kita bisa mebagi 2 cekungan yang ada di Natuna, yaitu Natuna Barat (West Natuna Basin) yang masuk kedalam katergori mature basin (IBS) dan Natuna Timur (East Natuna Basin) yang masuk kategori semi mature basin (IBS). Pada tulisan ini, yang akan dibahas adalah Cekungan Natuna Timur (East Natuna Basin).

 Terbatasnya kegiatan eksplorasi hidrokarbon, terutama pengeboran, di Cekungan Natuna Timur membuat data-data bawah permukaan cekungan ini terbatas juga. Stratigrafi cekungan ini dikaitkan dengan Cekungan Natuna Barat.

Batuan sedimen tertua yang berada di Cekungan Natuna Timur adalah batupasir (sandstone) dan batuserpih (shale) yang berumur Late Oligocene sampai Early Miocene. Jika dibandingkan dengan Cekungan tentangganya yaitu Cekungan Natuna Barat, batupasir yang ada disini equivalen dengan Formasi Upper Gabus. Lingkungan pengendapan diinterpretasikan berupa aluvial plain dan delta plain. Sedangkan batuserpihnya, yang terdiri dari serpih laut (marine shale) berwarna kehijauan dan ke abu-abuan, di equivalen-kan dengan Formasi Barat di Cekungan Natuna Barat. Sikuen ini menunjukkan bahwa pada saat pengendapan terjadi maximum transgresion.

Trus... di bagian atasnya diendapkan  batupasir Formasi Lower Arang, terbentuk pada fase regresif. Tapi fase ini berlangsung sebentar aja, dan dilanjutkan lagi dengan fase transgresif. Nah, batupasir yang dihasilkan pada dua fase tersebut masuk ke dalam batupasir Lower Arang. Fase transgresi berhenti ditandai dengan pengendapan abu-abu sampai coklat serpih laut (marine shale). Ada kejadian yang berbeda antra di utara dan di selatan setelah proses pengendapan ini.  Utara, Setelah pengendapan Formasi Lower Arang dilanjutkan dengan pertumbuhan  Formasi Terumbu, sementara itu di bagian selatan dilanjutkan dengan pengendapan batupasir Sokang.

Pupilli (1973) membagi Formasi Terumbu menjadi 2 bagian, yaitu lower member dan upper member. Lower member terdiri atas karbonat berupa platform, tersusun oleh packstone, boundstone dan wackstone berlapis. Sementra Upper member tersusun oleh batugamping reef (terumbu) terusun oleh dolomit terdiagenesis dan mengandung banyak fosil.

Daerah-daerah rendahan di antara batugamping terumbu terendapkan serpih laut (marine shale) dan marl. Pertumbuhan terumbu terjadi antara Mid. Miocene - Late Miocene.  Sementra di utara terjadi pertumbuhan batugamping terumbu, di daerah bagian selatan terus diendapkan Upper Arang Shale pada periode transgresif. Pengendapan serpih ini diikuti batupasir Upper Arang, dan meluas hingga ke utara dan  menutupi Formasi Terumbu. Termuda adalah Formasi Muda, menutupi ketidakselarasan dan semua batuan yang lebih tua, dan membuat suksesi sedimen transgresi.




Peta 2. Peta blok yang ada di Natuna
(cicinyulianti.wordpress.com)


Melihat peta blok 2, banyak sekali blok-blok hidrokarbon yang sedang diusahakan di Natuna. Beberapa pengeboran sudah menemukan cadangan gas. Permasalahan di daerah Natuna adalah tingginya karbondioksida hampir diseluruh Cekungan Natuna. Bahkan beberapa diantaranya memiliki karbondioksida hingg diatas 75 %. 
Selain itu, kadang ditemukan juga well dengan kadar H2S yang tinggi... mencapai 500 ppm. Tentu saja ini tidak baik untuk ketahanan alat bor yang digunakan.

Mungkin itu dulu ngobrol hari ini, data-data yang digunakan diatas diambil dari berbagai sumber, untuk kepentingan belajar.
 





Selasa, 25 Desember 2012

Cerita Sederhana tentang Nickel laterite

Sudah lama ndak nongol di blogspot baru dapat kesempatan lagi sekarang..
kali ini saya ingin berbagi pengetahuan sedikit tentang eksplorasi sederhana pada endapan nickel laterite. Ini berdasarkan sedikit pengalaman di kota kecil di Konawe selatan, Sulawesi Tenggara. Tapi lokasi pastinya,,, rahasia perusahaan.. hehe...

Secara sederhana endapan nickel laterite terbentuk karena terjadinya pelapukan pada batuan yang kaya akan nickel, umumnya batuan ultrabasa (ultramafic), misalnya dunite, serpentinite, peridotite, komatite, dll. Pada dasarnya batuan-batuan di atas sudah mengandung nickel; misalnya serpentinite, tapi dengan presentasi yang relatif kecil (kira-kira 0.3%). Tetapi, dengan adanya proses pelapukan, dan pencucian mineral-mineral yang lebih ringan, terjadilah pengkayaan, dan pada akhirnya persentasi nickel pada lapukan batuan tersebut meningkat (saat ini yang dinyatakan ekonomis adalah rata-rata >1.8%, tetapi endapan dengan kadar 1.5% sudah dikategorikan ore dan dikumpulkan sebagai stockpile).

Pada daerah eksplorasi di Konawe selatan, Provinsi Sulawesi tenggara, batuan yang dominan ditemui adalah serpentinite, dan ada beberapa titik ditemui kehadiran harzburgite. Lateritisasi di kedua batuan inilah yang membentuk endapan nickel laterite di tempat ini. Serpentinite memiliki warna abu-abu kehijauan, didominasi oleh mineral-mineral serpentine, yang berwarna hijau sabun, dan tekstur fibrous (Foto 1).

Foto 1. Conto setangan (hand specimen) Serpentinite


Setelah mengalami proses lateritisasi, batuan ini berubah warna menjadi coklat kehijauan, dan menjadi gembur (brittle, dan mudah diremas), orang kampung bilang; ore yang bagus yang warnanya seperti kotoran kuda.. hehe..

Bedasarkan pengalaman di lapangan, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk keberadaan endapan nickel laterite.

1. Vegetasi
    Tumbuhan yang biasanya hidup di lokasi endapan nickel laterite pada umumnya adalah tumbuhan yang tidak memerlukan banyak air, misalnya ilalang (Foto 2).


Foto 2.  Tumbuhan ilalang mendominasi lokasi endapan nickel laterite, dengan topografi bergelombang lemah


2. Tanah
    Tanah yang  umumnya menutupi endapan nickel laterite (OB) biasanya berwana merah. Tanah ini merupakan tanah hasil oksidasi dari batuan yang kaya akan besi (Fe). Seperti yang kita ketahui bahwa batuan-batuan basa hingga ultra basa memiliki persentase besi yang cukup tinggi, sehingga ketika teroksidasi, maka mineral hematite, limonite, goetite, akan sangat melimpah (Foto 3).

Foto 3. Kenampakan endapan nickel laterite setelah pengubasan tanah penutup

3. Topografi
     Kondisi topografi juga menjadi faktor penting dalam proses lateritisasi. Kondisi topografi yang datar atau sedikit bergelombang (undulating) lebih baik untuk proses lateritisasi dibandingkan dengan topografi yang curam. Alasannya; topografi yang datar atau sedikit bergelombang lebih berpeluang menghasilkan tanah laterite yang tebal. (foto 2), jika dibandingkan topografi yang curam yang biasanya soil lebih mudah tererosi.

4. Batuan
    Jenis batuan pastinya menempati identifikasi yang terpenting dalam mengeksplor suatu daerah. Keberadaan batuan-batuan ultrabasa (Foto 1) sebagai geologi regional suatu daerah merupakan hal yang penting untuk menemukan keberadaan endapan nickel laterite. akan sangat lucu jika kita mencari endapan nickel laterite pada suatu daerah dengan litologi batugamping yang luas dan tebal dan  sangat sulit menjelaskan keberadaan endapan nickel laterite pada kondisi geologi seperti itu.

Dalam bisnis nickel, faktor kadar nickel (grade) yang diminati buyer, perbandingan tebal OB dan endapan (ore) (stripping ratio), posisi dan akses ke jeety dll juga menjadi perhatian besar, karena hal-hal tersebut sangat erat kaitannya dengan uang/pembiayaan/nilai investasi. Tentu saja hubungan dengan masyrakat sekitar tidak dilupakan.

Demikian ulasan singkat tentang nickel laterite, jika ada masukan atau pertanyaan, silakan hubungi saya.

Rabu, 09 Mei 2012

Cara mengenali batuan alterasi (How to know alteration rocks)


Beberapa pertanyaan yang sering muncul bagi seorang geologist yang baru lulus terkait alterasi adalah sebagai berikut:
1. Batu ini sudah teralterasi atau belum?
2. Waktu batuan itu teralterasi bagaimana sih keadaan lingkungannya? (suhu, tekanannya, dsb)
3. Apakah batuan ini teralterasi karena proses hidrothermal? Atau nggak?
4. Batuan asalnya apa?

Alterasi berasal dari kata alter yang lebih mudah diterjemahkan sebagai “ubah”, jadi, suatu mineral dikatakan sebagai mineral alterasi jika mineral tersebut sudah berubah dari mineral aslinya. Perubahan ini terjadi karena perubahan komposisi kimia dari mineral tersebut. Setiap mineral tersusun atas satu atau beberapa unsur yang berikatan. Ada ikatan yang sangat kuat, tetapi ada juga ikatan yang sangat lemah. 

Jika dibawa ke contoh ngawur; si A berpacaran dengan si B (ikatan AB), kedua2nya adalah pasangan yang sangat akur, dan saling setia (ikatan kuat), meskipun datang si C, si A dan si B tidak akan putus, karena ikatannya kuat (maka akan tetap menjadi ikatan AB). Berbeda dengan pasangan si D dan si E (ikatan DE)yang tidak akur dan tidak saling setia (ikatan lemah), ketika datang si C, si D cenderung akan selingkuh dengan si C, sehingga terbentuk ikatan baru yaitu CD. Artinya dihasilkan sesuatu yang baru.

Jika dibawa lagi ke mineral, perubahan komposisi kimia mineral inilah yang menghasilkan perubahan mineral  (mineral alterasi).
Mari kita bawa ke contoh nyata pada endapan skarn. Pada endapan skarn mineral alterasi yang terbentuk adalah calc silicate minerals. Mineral ini terbentuk karena adanya reaksi antara Ca pada batu gamping (CaCo3) dengan larutan hidrothermal yang kaya silikat. Ca dan Co3 akhirnya berpisah dan si Ca bereaksi dengan silikat. (Ca selingkuh hehehe)

 Epidote (hijau dan prismatik) adalah contoh mineral Ca + silikat.
sangat umum ditemukan pada endapan skarn (retrograde)

Kita kembali ke 4 pertanyaan di atas, untuk menjawab itu semua kita harus melakukan observasi beberapa hal pada batuan meliputi;  tekstur asli (kalo masih kelihatan lho) biasanya terlihat hanya sebagai tekstur sisa, warna, asosiasi mineral, tekstur, intensitas alterasi, hubungan overprinting, dan pola distribusi mineral alterasi. Mari kita bahas satu persatu...

      Apakah batuan sudah teralterasi?
Cara paling mudah menjawab pertanyaan itu tentunya adalah dengan cara membandingkan batuan yang sama (tapi masih fresh) yang ditemukan pada unit yang sama (ya iyalah.. masalahnya kita kadang ragu apa batuan asalnya.. hehe)
Kita bisa melihat komposisi mineral/asosiasi mineral yang ada pada suatu batuan, apakah ada mineral-mineral yang dianggap sebagai mineral alterasi? Artinya bukan anggota dari rock forming mineral. Apakah ada beberapa komponen yang tidak hadir (yang sebenarnya selalu hadir pada batuan asalnya)? Dengan asumsi mereka sudah teralterasi menjadi sesuatu. Misal Feldspar pada diorit (kan harus ada tu) tapi kita hanya menemukan lempung, berarti batuan itu telah teralterasi.
Melihat teksur batuan tersebut, mineral yang teralterasi kuat cenderung kehilangan tekstur aslinya, misal sudah tidak granular lagi dsb, tetapi pada batuan alterasi sedang hingga lemah masih menyisakan kenampakan tekstur asli batuan.

      Waktu batuan itu teralterasi bagaimana sih keadaan lingkungannya?
Mengetahui keadaan pada saat batuan terbentuk memang menjadi tantangan bagi seorang geologist. Tetapi dengan mendeskripsi batuan dengan tepat akan bisa menghasilkan kesimpulan ini. Pengamatan terhadap tekstur sisa (relict texture) dapat memberikan informasi tekstur asli batuan asal. Dengan mengetahuinya kita dapat menduga batuan tersebut terbentuk dimana (ex. Dangkal? Atau dalam?). Pengamatan terhadap mineral-mineral alterasi (dan asosiasinya) juga bisa memberikan informasi keadaan pada saat batuan tersebut teralterasi. Misalnya; epidote, bisa dikatakan terbentuk pada suhu yang tinggi, karena memang mineral ini terbentuk pada suhu yang tinggi. Dsb.

3.       Apakah batuan ini teralterasi karena proses hidrothermal? Atau nggak?
Secara sederhana batuan yang teralterasi karena proses hidrothermal penyebarannya tidak terlalu luas dan dapat dilihat rentang intensitas alterasi dari yang lemah hingga yang kuat. Selain itu batuan yang teralterasi karena proses hidrothermal akan cenderung kehilangan tekstur aslinya. 

Batuan asalnya apa?
Beberapa hal yang harus dideskripsikan dalam menentukan jenis batuan asal adalah;
a.       Hubungan di lapangan (field relationship), relict texture (tekstur sisa), dan asosiasi mineral. Kenampakan batuan alterasi di lapangan dan hubungannya dengan batuan-batuan yang lain (fresh rock) yang ada di sekitarnya dapat memudahkan kita menentukan jenis batuan asal.
b.      Pada batuan yang telah teralterasi biasanya tetap akan memperlihatkan relict texture (tekstur sisa). Tekstur sisa ini dapat memberikan informasi kepada geologist untuk mengindetifikasi tekstur awal sewaktu belum terlaterasi. Ketika tekstur awal suatu batuan sudah teridentifikasi akan semakin mudah menentukan jenis batuan asal.
c.       Asosiasi mineral, baik yang teralterasi ataupun tidak dapat memberikan informasi tentang jenis batuan asal suatu batuan.

Demikian sedikit share, semoga berguna... 

Minggu, 06 Mei 2012

Tipe-tipe Urat Pada Endapan Porfiri

Pada tulisan kali ini bloger akan berbagi sedikit pengetahuan tentang macam-macam vein yang biasanya terdapat pada endapan porfiri. Pengetahuan ini sebagain besar saya pelajari dari tulisan Corbett dan Leach. Sebagian lagi saya pelajari pada saat saya mengerjakan projek porfiri di Ujung sumatera nan jauh disana (red; Tapak Tuan).
Tipe-tipe urat kuarsa pada endapan porfiri menurut Gustafson dan Hunt adalah sebagai berikut:
1. A Vein (urat A)
   Vein terbentuk di awal-awal, biasasnya vein ini bersegmen dan orientasi tidak jelas, mengandung 90-95 % kuarsa. Vein ini terbentuk pada suhu yang tinggi.
2. B vein (urat B)
    Vein ini tersusun oleh mineral kuarsa dengan ukuran kristal kasar (>1mm) dan salinitas tinggi, sebagian memiliki struktur cockscomb. Pada umumnya urat ini berlaminasi, dan terdapat penjajaran mineral lain (ex. sulfida chalcopyrite) pada bagian tengah vein. Overprinting dan stockwork sangat intensif. Mineral sulfida seperti pyrite, chalcopyrite, dan bornite pada umumnya hadir pada vein ini.
3. D vein (urat D)
    Vein terdiri dari kuarsa dengan bentuk kristal, dan memiliki salinitas yang rendah. Kuarsa berasosiasi dengan serisit, terbentuk belakangan. Lebar vein bisa mencapai 1 meter, bahkan lebih dari 1 meter. Asosiasi kuarsa dengan chalcopyrite, tennanite, enargite, bornite, sphalerite, galena, dll.

Ada juga yang mengelompokkan urat kuarsa pada endapan porfiri menjadi 5 jenis. Pembagian ini terkait juga dengan waktu pembentukan dan suhu pada saat vein terbentuk. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Terbentuk awal (Prograde-suhu tinggi)
1. A vein (urat A)
    Ptymatic dismembered ( Gustafson dan Hunt)
2. M vein (urat M)
    Pada vein tipe M ini mineral yang berasosiasi adalah; magnetite +/- kuarsa + actinolite + anhydrite + biotite  (initial alteration)
3. A vein (urat A)
    Pada vein tipe A, mineral-mineral yang berasosiasi adalah kuarsa dengan kilap kaca + magnetite
4. B vein (urat B)
    Vein ini berbentuk stockwork, dan berlapis-lapis, pada bagian tengah berstruktur comb, berlaminasi, dan mengalami reaktivasi.
5. D vein (urat D)
    alterasi serisit dan mengandung mineral-mineral sulfida.

Berikut foto-foto jenis-jenis vein (diambil dari koleksi Corbett dan Leach).
Semoga ilmunya berguna...



Jumat, 04 Mei 2012

Cara Sederhana Identifikasi Endapan Skarn di Lapangan

Saat ini dalam dunia explorasi endapan skarn cukup menarik untuk dipelajari, meskipun beberapa exploration geologist menganggap bahwa Skarn hanyalah sebagai "bonus" pada endapan emas tipe porfiri. Berbeda dengan endapan emas tipe porfiri, endapan skarn dalam proses pembentukannya tidak memerlukan beberapa kali proses intrusi (multiple intrusion). (Sumber foto: Hiroyasu, 2005).



Berikut akan di jelaskan cara-cara sederhana identifikasi endapan skarn (saya pelajari dari beberapa literatur, serta pengalaman explorasi di Peulumat, South Aceh).

Sebelum masuk ke pembahasan cara identifikasi, ada baiknya di ulas sedikit apa itu endapan skarn? Pada awalnya endapan skarn dianggap sebagai batuan metamorf hasil kontak antara (hanya) batuan sedimen karbonatan dengan intrusi magma oleh ahli petrologi metamorf, dengan terjadi perubahan kandungan batuan sedimen yang kaya karbonat, besi, dan magnesium menjadi kaya akan kandungan Si, Al, Fe dan Mg dimana proses yang bekerja berupa metasomatisme pada intrusi atau di dekat intrusi batuan beku (Best, 1982). Tetapi definisi saat ini lebih tepatnya, secara sederhana endapan skarn terbentuk sebagai hasil interaksi/reaksi antara larutan hidrothermal yang kaya silika bereaksi dengan batuan sedimen/non sedimen yang kaya akan unsur Ca (kalsium), pada batuan sedimen misalnya pada batugamping (tetapi bukan hanya pada batugamping). Hasil dari reaksi tersebut akan menghasilkan mineral-mineral calc-silicate seperti garnet, epidote, pyroxene sekunder, dll. Secara umum skarn dikelompokkan menjadi 2 berdasarkan suhu pembentukannya; prograde skarn, dan retrograde skarn. Skarn prograde terbentuk pada suhu tinggi, dicirikan oleh asosiasi mineral-mineral bersuhu tinggi, seperti garnet, klinopiroksen, biotit, humit, montiselit,dll, sedangkan skarn retrograde terbentuk pada suhu rendah umumnya tersusun oleh mineral-mineral serpentin, amfibol, tremolit, epidot, klorit, kalsit, dll. Berdasarkan posisi dan batuan dasar yang tergantikan endapan skarn dapat diklasifikasikan berdasarkan dari batuan asal yang tergantikan dengan istilah eksoskarn dan endoskarn yang digunakan pada batuan yang tergantikan. Dengan kandungan mineral-mineral bijih tertinggi dapat dijumpai pada endapan skarn tipe eksoskarn. Eksoskarn yaitu skarn yang terbentuk pada batuan sedimen di sekitar intrusi batuan beku, sedangkan endoskarn yaitu skarn yang terbentuk pada batas atau di dalam batuan beku itu sendiri.

Bagaimana cara memetakan endapan skarn? Beberapa hal yang harus dilakukan di lapangan dalam identifikasi endapan skarn:

1. Identifikasi mineral penciri skarn
Di antara banyaknya mineral-mineral skarn, bukan hanya garnet dan piroksen sekunder saja yang menjadi perhatian penting, tetapi mineral-mineral lain seperti grup amfibol dan epidot juga harus mendapat perhatian lebih dalam rangka mengidentifikasi endapan skarn. Identifikasi mineral-mineral tersebut dapat memberikan gambaran; suhu pembentukan, tekanan, oksigen, dan jarak dari tubuh endapan skarn/zona kontak dengan intrusi. Asosiasi mineral garnet dan piroksen sekunder memberikan informasi bahwa endapan terbentuk pada suhu >400 C, sedangkan asosiasi mineral-mineral amfibol dengan epidot menunjukkan bahwa endapan terbentuk pada suhu <400 C. 

2. Tekstur dan mode pembentukan endapan skarn
tekstur dan mode pembentukan endapan skarn sangat terkait dengan kedalaman endapan tersebut. Jika kedalaman endapan skarn dapat ditentukan, persebaran dari endapan tersebut akan dapat ditentukan. Tekstur endapan skarn misalnya, jika batuan induk memiliki banyak lubang-lubang (porous) tetapi tidak terisi oleh mineral-mineral skarn, artinya endapan tersebut tidak terlalu banyak memiliki volume untuk mengisi lubang-lubang tersebut, sebaliknya jika lubang-lubang terebut terisi oleh mineral-mineral endapan skarn, itu memberikan informasi bahwa endapan tersebut memiliki tubuh yang cukup besar.

3. warna mineral endapan skarn
Warna mineral endapan skarn dapat memberikan informasi seberapa jauh mineral dari zona kontak. Garnet yang berwarna coklat (lebih gelap) berarti dekat dengan zona intrusi, sedangkan yang berwarna lebih terang (coklat terang dll) berarti berjarak lebih jauh dari zona intrusi.
4.Ukuran butir mineral pada endapan skarn dan mineral-mineral konstituen pada batuan induk/asal,
Ukuran butir dapat menunjukkan dalam tidaknya tempat pembentukan endapan skarn tersebut.

5. batuan dan struktur batuan induk/asal (contoh: dolomitic or calcareous, bedding plane, schistosity, dan joint).

6. Kehadiran urat
Urat pada endapan skarn juga menjadi jalan masuknya fluida hidrothermal pda batuan yang kaya akan Ca, hal ini akan mempermudah proses alterasi skarn pada tubuh batuan induk yang ada.

Demikin sedikit penjelasan tentang cara sederhana mengidentifikasikan endapan skarn di lapangan. Semoga bermanfaat.