Indahnya Geologi

Indahnya Geologi
Tampilkan postingan dengan label Eksplorasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eksplorasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

Cerita Sederhana tentang Nickel laterite

Sudah lama ndak nongol di blogspot baru dapat kesempatan lagi sekarang..
kali ini saya ingin berbagi pengetahuan sedikit tentang eksplorasi sederhana pada endapan nickel laterite. Ini berdasarkan sedikit pengalaman di kota kecil di Konawe selatan, Sulawesi Tenggara. Tapi lokasi pastinya,,, rahasia perusahaan.. hehe...

Secara sederhana endapan nickel laterite terbentuk karena terjadinya pelapukan pada batuan yang kaya akan nickel, umumnya batuan ultrabasa (ultramafic), misalnya dunite, serpentinite, peridotite, komatite, dll. Pada dasarnya batuan-batuan di atas sudah mengandung nickel; misalnya serpentinite, tapi dengan presentasi yang relatif kecil (kira-kira 0.3%). Tetapi, dengan adanya proses pelapukan, dan pencucian mineral-mineral yang lebih ringan, terjadilah pengkayaan, dan pada akhirnya persentasi nickel pada lapukan batuan tersebut meningkat (saat ini yang dinyatakan ekonomis adalah rata-rata >1.8%, tetapi endapan dengan kadar 1.5% sudah dikategorikan ore dan dikumpulkan sebagai stockpile).

Pada daerah eksplorasi di Konawe selatan, Provinsi Sulawesi tenggara, batuan yang dominan ditemui adalah serpentinite, dan ada beberapa titik ditemui kehadiran harzburgite. Lateritisasi di kedua batuan inilah yang membentuk endapan nickel laterite di tempat ini. Serpentinite memiliki warna abu-abu kehijauan, didominasi oleh mineral-mineral serpentine, yang berwarna hijau sabun, dan tekstur fibrous (Foto 1).

Foto 1. Conto setangan (hand specimen) Serpentinite


Setelah mengalami proses lateritisasi, batuan ini berubah warna menjadi coklat kehijauan, dan menjadi gembur (brittle, dan mudah diremas), orang kampung bilang; ore yang bagus yang warnanya seperti kotoran kuda.. hehe..

Bedasarkan pengalaman di lapangan, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk keberadaan endapan nickel laterite.

1. Vegetasi
    Tumbuhan yang biasanya hidup di lokasi endapan nickel laterite pada umumnya adalah tumbuhan yang tidak memerlukan banyak air, misalnya ilalang (Foto 2).


Foto 2.  Tumbuhan ilalang mendominasi lokasi endapan nickel laterite, dengan topografi bergelombang lemah


2. Tanah
    Tanah yang  umumnya menutupi endapan nickel laterite (OB) biasanya berwana merah. Tanah ini merupakan tanah hasil oksidasi dari batuan yang kaya akan besi (Fe). Seperti yang kita ketahui bahwa batuan-batuan basa hingga ultra basa memiliki persentase besi yang cukup tinggi, sehingga ketika teroksidasi, maka mineral hematite, limonite, goetite, akan sangat melimpah (Foto 3).

Foto 3. Kenampakan endapan nickel laterite setelah pengubasan tanah penutup

3. Topografi
     Kondisi topografi juga menjadi faktor penting dalam proses lateritisasi. Kondisi topografi yang datar atau sedikit bergelombang (undulating) lebih baik untuk proses lateritisasi dibandingkan dengan topografi yang curam. Alasannya; topografi yang datar atau sedikit bergelombang lebih berpeluang menghasilkan tanah laterite yang tebal. (foto 2), jika dibandingkan topografi yang curam yang biasanya soil lebih mudah tererosi.

4. Batuan
    Jenis batuan pastinya menempati identifikasi yang terpenting dalam mengeksplor suatu daerah. Keberadaan batuan-batuan ultrabasa (Foto 1) sebagai geologi regional suatu daerah merupakan hal yang penting untuk menemukan keberadaan endapan nickel laterite. akan sangat lucu jika kita mencari endapan nickel laterite pada suatu daerah dengan litologi batugamping yang luas dan tebal dan  sangat sulit menjelaskan keberadaan endapan nickel laterite pada kondisi geologi seperti itu.

Dalam bisnis nickel, faktor kadar nickel (grade) yang diminati buyer, perbandingan tebal OB dan endapan (ore) (stripping ratio), posisi dan akses ke jeety dll juga menjadi perhatian besar, karena hal-hal tersebut sangat erat kaitannya dengan uang/pembiayaan/nilai investasi. Tentu saja hubungan dengan masyrakat sekitar tidak dilupakan.

Demikian ulasan singkat tentang nickel laterite, jika ada masukan atau pertanyaan, silakan hubungi saya.

Minggu, 06 Mei 2012

Tipe-tipe Urat Pada Endapan Porfiri

Pada tulisan kali ini bloger akan berbagi sedikit pengetahuan tentang macam-macam vein yang biasanya terdapat pada endapan porfiri. Pengetahuan ini sebagain besar saya pelajari dari tulisan Corbett dan Leach. Sebagian lagi saya pelajari pada saat saya mengerjakan projek porfiri di Ujung sumatera nan jauh disana (red; Tapak Tuan).
Tipe-tipe urat kuarsa pada endapan porfiri menurut Gustafson dan Hunt adalah sebagai berikut:
1. A Vein (urat A)
   Vein terbentuk di awal-awal, biasasnya vein ini bersegmen dan orientasi tidak jelas, mengandung 90-95 % kuarsa. Vein ini terbentuk pada suhu yang tinggi.
2. B vein (urat B)
    Vein ini tersusun oleh mineral kuarsa dengan ukuran kristal kasar (>1mm) dan salinitas tinggi, sebagian memiliki struktur cockscomb. Pada umumnya urat ini berlaminasi, dan terdapat penjajaran mineral lain (ex. sulfida chalcopyrite) pada bagian tengah vein. Overprinting dan stockwork sangat intensif. Mineral sulfida seperti pyrite, chalcopyrite, dan bornite pada umumnya hadir pada vein ini.
3. D vein (urat D)
    Vein terdiri dari kuarsa dengan bentuk kristal, dan memiliki salinitas yang rendah. Kuarsa berasosiasi dengan serisit, terbentuk belakangan. Lebar vein bisa mencapai 1 meter, bahkan lebih dari 1 meter. Asosiasi kuarsa dengan chalcopyrite, tennanite, enargite, bornite, sphalerite, galena, dll.

Ada juga yang mengelompokkan urat kuarsa pada endapan porfiri menjadi 5 jenis. Pembagian ini terkait juga dengan waktu pembentukan dan suhu pada saat vein terbentuk. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Terbentuk awal (Prograde-suhu tinggi)
1. A vein (urat A)
    Ptymatic dismembered ( Gustafson dan Hunt)
2. M vein (urat M)
    Pada vein tipe M ini mineral yang berasosiasi adalah; magnetite +/- kuarsa + actinolite + anhydrite + biotite  (initial alteration)
3. A vein (urat A)
    Pada vein tipe A, mineral-mineral yang berasosiasi adalah kuarsa dengan kilap kaca + magnetite
4. B vein (urat B)
    Vein ini berbentuk stockwork, dan berlapis-lapis, pada bagian tengah berstruktur comb, berlaminasi, dan mengalami reaktivasi.
5. D vein (urat D)
    alterasi serisit dan mengandung mineral-mineral sulfida.

Berikut foto-foto jenis-jenis vein (diambil dari koleksi Corbett dan Leach).
Semoga ilmunya berguna...