Indahnya Geologi

Indahnya Geologi

Rabu, 09 Mei 2012

Cara mengenali batuan alterasi (How to know alteration rocks)


Beberapa pertanyaan yang sering muncul bagi seorang geologist yang baru lulus terkait alterasi adalah sebagai berikut:
1. Batu ini sudah teralterasi atau belum?
2. Waktu batuan itu teralterasi bagaimana sih keadaan lingkungannya? (suhu, tekanannya, dsb)
3. Apakah batuan ini teralterasi karena proses hidrothermal? Atau nggak?
4. Batuan asalnya apa?

Alterasi berasal dari kata alter yang lebih mudah diterjemahkan sebagai “ubah”, jadi, suatu mineral dikatakan sebagai mineral alterasi jika mineral tersebut sudah berubah dari mineral aslinya. Perubahan ini terjadi karena perubahan komposisi kimia dari mineral tersebut. Setiap mineral tersusun atas satu atau beberapa unsur yang berikatan. Ada ikatan yang sangat kuat, tetapi ada juga ikatan yang sangat lemah. 

Jika dibawa ke contoh ngawur; si A berpacaran dengan si B (ikatan AB), kedua2nya adalah pasangan yang sangat akur, dan saling setia (ikatan kuat), meskipun datang si C, si A dan si B tidak akan putus, karena ikatannya kuat (maka akan tetap menjadi ikatan AB). Berbeda dengan pasangan si D dan si E (ikatan DE)yang tidak akur dan tidak saling setia (ikatan lemah), ketika datang si C, si D cenderung akan selingkuh dengan si C, sehingga terbentuk ikatan baru yaitu CD. Artinya dihasilkan sesuatu yang baru.

Jika dibawa lagi ke mineral, perubahan komposisi kimia mineral inilah yang menghasilkan perubahan mineral  (mineral alterasi).
Mari kita bawa ke contoh nyata pada endapan skarn. Pada endapan skarn mineral alterasi yang terbentuk adalah calc silicate minerals. Mineral ini terbentuk karena adanya reaksi antara Ca pada batu gamping (CaCo3) dengan larutan hidrothermal yang kaya silikat. Ca dan Co3 akhirnya berpisah dan si Ca bereaksi dengan silikat. (Ca selingkuh hehehe)

 Epidote (hijau dan prismatik) adalah contoh mineral Ca + silikat.
sangat umum ditemukan pada endapan skarn (retrograde)

Kita kembali ke 4 pertanyaan di atas, untuk menjawab itu semua kita harus melakukan observasi beberapa hal pada batuan meliputi;  tekstur asli (kalo masih kelihatan lho) biasanya terlihat hanya sebagai tekstur sisa, warna, asosiasi mineral, tekstur, intensitas alterasi, hubungan overprinting, dan pola distribusi mineral alterasi. Mari kita bahas satu persatu...

      Apakah batuan sudah teralterasi?
Cara paling mudah menjawab pertanyaan itu tentunya adalah dengan cara membandingkan batuan yang sama (tapi masih fresh) yang ditemukan pada unit yang sama (ya iyalah.. masalahnya kita kadang ragu apa batuan asalnya.. hehe)
Kita bisa melihat komposisi mineral/asosiasi mineral yang ada pada suatu batuan, apakah ada mineral-mineral yang dianggap sebagai mineral alterasi? Artinya bukan anggota dari rock forming mineral. Apakah ada beberapa komponen yang tidak hadir (yang sebenarnya selalu hadir pada batuan asalnya)? Dengan asumsi mereka sudah teralterasi menjadi sesuatu. Misal Feldspar pada diorit (kan harus ada tu) tapi kita hanya menemukan lempung, berarti batuan itu telah teralterasi.
Melihat teksur batuan tersebut, mineral yang teralterasi kuat cenderung kehilangan tekstur aslinya, misal sudah tidak granular lagi dsb, tetapi pada batuan alterasi sedang hingga lemah masih menyisakan kenampakan tekstur asli batuan.

      Waktu batuan itu teralterasi bagaimana sih keadaan lingkungannya?
Mengetahui keadaan pada saat batuan terbentuk memang menjadi tantangan bagi seorang geologist. Tetapi dengan mendeskripsi batuan dengan tepat akan bisa menghasilkan kesimpulan ini. Pengamatan terhadap tekstur sisa (relict texture) dapat memberikan informasi tekstur asli batuan asal. Dengan mengetahuinya kita dapat menduga batuan tersebut terbentuk dimana (ex. Dangkal? Atau dalam?). Pengamatan terhadap mineral-mineral alterasi (dan asosiasinya) juga bisa memberikan informasi keadaan pada saat batuan tersebut teralterasi. Misalnya; epidote, bisa dikatakan terbentuk pada suhu yang tinggi, karena memang mineral ini terbentuk pada suhu yang tinggi. Dsb.

3.       Apakah batuan ini teralterasi karena proses hidrothermal? Atau nggak?
Secara sederhana batuan yang teralterasi karena proses hidrothermal penyebarannya tidak terlalu luas dan dapat dilihat rentang intensitas alterasi dari yang lemah hingga yang kuat. Selain itu batuan yang teralterasi karena proses hidrothermal akan cenderung kehilangan tekstur aslinya. 

Batuan asalnya apa?
Beberapa hal yang harus dideskripsikan dalam menentukan jenis batuan asal adalah;
a.       Hubungan di lapangan (field relationship), relict texture (tekstur sisa), dan asosiasi mineral. Kenampakan batuan alterasi di lapangan dan hubungannya dengan batuan-batuan yang lain (fresh rock) yang ada di sekitarnya dapat memudahkan kita menentukan jenis batuan asal.
b.      Pada batuan yang telah teralterasi biasanya tetap akan memperlihatkan relict texture (tekstur sisa). Tekstur sisa ini dapat memberikan informasi kepada geologist untuk mengindetifikasi tekstur awal sewaktu belum terlaterasi. Ketika tekstur awal suatu batuan sudah teridentifikasi akan semakin mudah menentukan jenis batuan asal.
c.       Asosiasi mineral, baik yang teralterasi ataupun tidak dapat memberikan informasi tentang jenis batuan asal suatu batuan.

Demikian sedikit share, semoga berguna... 

Minggu, 06 Mei 2012

Tipe-tipe Urat Pada Endapan Porfiri

Pada tulisan kali ini bloger akan berbagi sedikit pengetahuan tentang macam-macam vein yang biasanya terdapat pada endapan porfiri. Pengetahuan ini sebagain besar saya pelajari dari tulisan Corbett dan Leach. Sebagian lagi saya pelajari pada saat saya mengerjakan projek porfiri di Ujung sumatera nan jauh disana (red; Tapak Tuan).
Tipe-tipe urat kuarsa pada endapan porfiri menurut Gustafson dan Hunt adalah sebagai berikut:
1. A Vein (urat A)
   Vein terbentuk di awal-awal, biasasnya vein ini bersegmen dan orientasi tidak jelas, mengandung 90-95 % kuarsa. Vein ini terbentuk pada suhu yang tinggi.
2. B vein (urat B)
    Vein ini tersusun oleh mineral kuarsa dengan ukuran kristal kasar (>1mm) dan salinitas tinggi, sebagian memiliki struktur cockscomb. Pada umumnya urat ini berlaminasi, dan terdapat penjajaran mineral lain (ex. sulfida chalcopyrite) pada bagian tengah vein. Overprinting dan stockwork sangat intensif. Mineral sulfida seperti pyrite, chalcopyrite, dan bornite pada umumnya hadir pada vein ini.
3. D vein (urat D)
    Vein terdiri dari kuarsa dengan bentuk kristal, dan memiliki salinitas yang rendah. Kuarsa berasosiasi dengan serisit, terbentuk belakangan. Lebar vein bisa mencapai 1 meter, bahkan lebih dari 1 meter. Asosiasi kuarsa dengan chalcopyrite, tennanite, enargite, bornite, sphalerite, galena, dll.

Ada juga yang mengelompokkan urat kuarsa pada endapan porfiri menjadi 5 jenis. Pembagian ini terkait juga dengan waktu pembentukan dan suhu pada saat vein terbentuk. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Terbentuk awal (Prograde-suhu tinggi)
1. A vein (urat A)
    Ptymatic dismembered ( Gustafson dan Hunt)
2. M vein (urat M)
    Pada vein tipe M ini mineral yang berasosiasi adalah; magnetite +/- kuarsa + actinolite + anhydrite + biotite  (initial alteration)
3. A vein (urat A)
    Pada vein tipe A, mineral-mineral yang berasosiasi adalah kuarsa dengan kilap kaca + magnetite
4. B vein (urat B)
    Vein ini berbentuk stockwork, dan berlapis-lapis, pada bagian tengah berstruktur comb, berlaminasi, dan mengalami reaktivasi.
5. D vein (urat D)
    alterasi serisit dan mengandung mineral-mineral sulfida.

Berikut foto-foto jenis-jenis vein (diambil dari koleksi Corbett dan Leach).
Semoga ilmunya berguna...



Jumat, 04 Mei 2012

Cara Sederhana Identifikasi Endapan Skarn di Lapangan

Saat ini dalam dunia explorasi endapan skarn cukup menarik untuk dipelajari, meskipun beberapa exploration geologist menganggap bahwa Skarn hanyalah sebagai "bonus" pada endapan emas tipe porfiri. Berbeda dengan endapan emas tipe porfiri, endapan skarn dalam proses pembentukannya tidak memerlukan beberapa kali proses intrusi (multiple intrusion). (Sumber foto: Hiroyasu, 2005).



Berikut akan di jelaskan cara-cara sederhana identifikasi endapan skarn (saya pelajari dari beberapa literatur, serta pengalaman explorasi di Peulumat, South Aceh).

Sebelum masuk ke pembahasan cara identifikasi, ada baiknya di ulas sedikit apa itu endapan skarn? Pada awalnya endapan skarn dianggap sebagai batuan metamorf hasil kontak antara (hanya) batuan sedimen karbonatan dengan intrusi magma oleh ahli petrologi metamorf, dengan terjadi perubahan kandungan batuan sedimen yang kaya karbonat, besi, dan magnesium menjadi kaya akan kandungan Si, Al, Fe dan Mg dimana proses yang bekerja berupa metasomatisme pada intrusi atau di dekat intrusi batuan beku (Best, 1982). Tetapi definisi saat ini lebih tepatnya, secara sederhana endapan skarn terbentuk sebagai hasil interaksi/reaksi antara larutan hidrothermal yang kaya silika bereaksi dengan batuan sedimen/non sedimen yang kaya akan unsur Ca (kalsium), pada batuan sedimen misalnya pada batugamping (tetapi bukan hanya pada batugamping). Hasil dari reaksi tersebut akan menghasilkan mineral-mineral calc-silicate seperti garnet, epidote, pyroxene sekunder, dll. Secara umum skarn dikelompokkan menjadi 2 berdasarkan suhu pembentukannya; prograde skarn, dan retrograde skarn. Skarn prograde terbentuk pada suhu tinggi, dicirikan oleh asosiasi mineral-mineral bersuhu tinggi, seperti garnet, klinopiroksen, biotit, humit, montiselit,dll, sedangkan skarn retrograde terbentuk pada suhu rendah umumnya tersusun oleh mineral-mineral serpentin, amfibol, tremolit, epidot, klorit, kalsit, dll. Berdasarkan posisi dan batuan dasar yang tergantikan endapan skarn dapat diklasifikasikan berdasarkan dari batuan asal yang tergantikan dengan istilah eksoskarn dan endoskarn yang digunakan pada batuan yang tergantikan. Dengan kandungan mineral-mineral bijih tertinggi dapat dijumpai pada endapan skarn tipe eksoskarn. Eksoskarn yaitu skarn yang terbentuk pada batuan sedimen di sekitar intrusi batuan beku, sedangkan endoskarn yaitu skarn yang terbentuk pada batas atau di dalam batuan beku itu sendiri.

Bagaimana cara memetakan endapan skarn? Beberapa hal yang harus dilakukan di lapangan dalam identifikasi endapan skarn:

1. Identifikasi mineral penciri skarn
Di antara banyaknya mineral-mineral skarn, bukan hanya garnet dan piroksen sekunder saja yang menjadi perhatian penting, tetapi mineral-mineral lain seperti grup amfibol dan epidot juga harus mendapat perhatian lebih dalam rangka mengidentifikasi endapan skarn. Identifikasi mineral-mineral tersebut dapat memberikan gambaran; suhu pembentukan, tekanan, oksigen, dan jarak dari tubuh endapan skarn/zona kontak dengan intrusi. Asosiasi mineral garnet dan piroksen sekunder memberikan informasi bahwa endapan terbentuk pada suhu >400 C, sedangkan asosiasi mineral-mineral amfibol dengan epidot menunjukkan bahwa endapan terbentuk pada suhu <400 C. 

2. Tekstur dan mode pembentukan endapan skarn
tekstur dan mode pembentukan endapan skarn sangat terkait dengan kedalaman endapan tersebut. Jika kedalaman endapan skarn dapat ditentukan, persebaran dari endapan tersebut akan dapat ditentukan. Tekstur endapan skarn misalnya, jika batuan induk memiliki banyak lubang-lubang (porous) tetapi tidak terisi oleh mineral-mineral skarn, artinya endapan tersebut tidak terlalu banyak memiliki volume untuk mengisi lubang-lubang tersebut, sebaliknya jika lubang-lubang terebut terisi oleh mineral-mineral endapan skarn, itu memberikan informasi bahwa endapan tersebut memiliki tubuh yang cukup besar.

3. warna mineral endapan skarn
Warna mineral endapan skarn dapat memberikan informasi seberapa jauh mineral dari zona kontak. Garnet yang berwarna coklat (lebih gelap) berarti dekat dengan zona intrusi, sedangkan yang berwarna lebih terang (coklat terang dll) berarti berjarak lebih jauh dari zona intrusi.
4.Ukuran butir mineral pada endapan skarn dan mineral-mineral konstituen pada batuan induk/asal,
Ukuran butir dapat menunjukkan dalam tidaknya tempat pembentukan endapan skarn tersebut.

5. batuan dan struktur batuan induk/asal (contoh: dolomitic or calcareous, bedding plane, schistosity, dan joint).

6. Kehadiran urat
Urat pada endapan skarn juga menjadi jalan masuknya fluida hidrothermal pda batuan yang kaya akan Ca, hal ini akan mempermudah proses alterasi skarn pada tubuh batuan induk yang ada.

Demikin sedikit penjelasan tentang cara sederhana mengidentifikasikan endapan skarn di lapangan. Semoga bermanfaat.



Senin, 26 Maret 2012

Bagaimana cara mendeskripsikan batuan alterasi?

Cara mendeskripsikan batuan alterasi ini saya peroleh dan saya pelajari dari senior saya di Perusahaan (Reza Al furqan). Sebenarnya tidak ada format khusus untuk mendeskripsi sebuah batuan alterasi, baik secara makroskopis ataupun mikrospkopis.
Tetapi ada beberapa karakter penting yang harus kita rekam dari sebuah batuan alterasi, yaitu:

1. warna
warna menjadi parameter yang sangat penting karena beberapa tipe alterasi tercermin lewat warna, akibat melimpahnya mineral alterasi yang menggantikan (replacement )mineral asli. Tetapi ini bukan berarti warna adalah satu-satunya karakter penting dalam mendeskripsikan batuan alterasi, karena terkadang sebuah mineral alterasi memiliki beberapa variasi warna.

2. Kekerasan (hardness)
Kekerasan menjadi faktor yang penting karena adanya proses alterasi pada batuan dapat merubah kekerasan batuan tersebut, bisa saja menjadi semakin keras, contoh pada alterasi silika, atau malah sebaliknya menjadi lembut, contoh pada alterasi lempung.

3. tekstur
Tekstur pada batuan yang sudah teralterasi biasanya akan menjadi tidak terlihat, atau samar-samar terlihat pada alterasi lemah sampai sedang.

4. komposisi
Jika batuan asal nya andesit, berarti mineral aslinya adalah feldspar-piroksen, sedangkan kalau sudah teralterasi, berarti komposisinya menjadi feldspar atau piroksen teralterasi, kalau sudah mahir, bisa menyebutkan e.g. komposisi andesit didominasi oleh klorit yg merupakan ubahan (alterasi) dari feldspar).

5. jenis alterasi
Setiap asosiasi mineral alterasi tertentu akan menunjukkan jenis alterasi tertentu, misalnya alterasi potasik, argilik dll, tetapi lebih baik menyebut alterasi clay-silica-pyrit (menyebutkan asosiasi mineral alterasinya) daripada langsung menyimpulkan alterasi argillic.

6. Persentase sulphide (mineral logam)
Biasanya yang paling mudah diamati adalah pirit, terkadang kalkopirit juga muncul.

7. Persentase urat (kuarsa/ kalsit)

untuk melihat jenis2 mineral alterasi bisa melihat berbagai macam literatur mineral alterasi, misalnya ATLAS ALTERATION.

Senin, 12 Desember 2011

Dasar-Dasar Fotografi (Fotografi dan Geologi)

Kuliah di geologi ataupun bekerja sebagai seorang geologist pastinya sangat akrab dengan alat yang namanya kamera. Setiap pergi mengambil data di lapangan, kamera tidak akan pernah ditinggalkan oleh seorang mahasiswa geologi ataupun geologist. Fungsi kamera ini pastinya untuk memoto objek-objek geologi yang ada di lapangan. Model utama biasanya adalah batu/singkapan, tetapi pemandangan indah juga sering menjadi model yang menarik sebagai kenampakan morfologi suatu daerah. Selain itu, biasanya para poter dan geologist nya pun tak luput ingin narsis-narsis-an di lapangan. Karena begitu dekatnya dengan kamera, tidak sedikit seorang geologist juga bekerja ganda sebagai fotografer terkenal, misalnya Kristupa saragih (fb: Kristupa Saragih) dan Juniarsam (fb: Al Juniarsam Full), mereka berdua adalah alumni teknik geologi UGM

Pada kesempatan kali ini aku ingin berbagi sedikit pengalaman tentang kamera, khususnya kamera DSLR. Kamera DSLR ini bisa dikatakan sangat tidak praktis dibawa ke lapangan, karena ukurannya yang besar dan bobot yang lebih berat ketimbang kamera pocket. Tetapi, karena hasil jepretannya bagus, banyak juga geologistnya yang suka membawanya ke lapangan.

DSLR merupakan singkatan dari Digital Single Lens Reflex. Kamera jenis ini biasanya digunakan oleh seorang yang profesional dalam dunia fotografi (fotografer). Tetapi, saat ini hampir semua orang bisa memiliki kamera tipe ini, karena harganya cukup terjangkau. Banyak orang lebih menyukai kamera ini ketimbang kamera saku (pocket camera) ataupun kamera prosumer, karena lensa pada kamera DSLR ini dapat diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, proses pengaturan pada kamera DSLR memungkinkan seseorang mengekspresikan kreatifitasnya dalam menjepret sebuah objek.

Berikut akan di jelaskan beberapa komponen pokok yang ada pada sebuah kamera DSLR.
1. Aperture
Aperture merupakan bukaan sebuah lensa yang menjadi pintu masuknya cahaya. Jadi, ketika bukaan aperture besar, maka kamera akan menerima banyak cahaya. Bukaan aperture yang besar sangat dibutuhkan pada kondisi pemotretan dengan cahaya yang minim, misalnya dalam ruangan, atau senja hari, dsb. Selain itu, bukaan aperture juga berfungsi untuk mengendalikan ruang tajam, mudahnya begini; jika kita menyeting aperture pada bukaan besar, latar belakang objek menjadi kabur, sedangkan jika setingan aperture pada bukaan kecil, foto yang dihasilkan cenderung memiliki ketajaman gambar hampir pada semua titik. Setingan Aperture pada kamera DSLR biasanya ditulis sebagai; f/2, f/4, f/6, dan seterusnya. Semakin kecil angka pembagi f (pada contoh tersebut f/2 paling kecil) artinya bukaan aperture semakin besar, artinya cahaya yang masuk ke kamera semakin besar pula, dan latar belakang objek semakin kabur.

2. Shutter Speed
Pada sebuah kamera, didepan sensor kamera tersebut terdapat komponen yang di sebut shutter. Fungsinya adalah mecegah cahaya masuk ketika tobol kamera/tobol shutter tidak di tekan. Semakin lama jendela shutter terbuka, maka akan semakin lama pula sensor kamera terkena cahaya. Dampaknya terhadap hasil jepretan adalah, jika jendela shutter terbuka lama, gambar akan semakin terang, sebaliknya jika shutter terbuka sebentar, gambar menjadi lebih gelap. Pada pengaturan shutter speed, akan terlihat angka-angka seperti; 60, 250, 500 dan seterusnya, ini maknanya adalah jendela shutter akan terbuka selama; 1/60 detik, 1/250 detik, 1/500 detik dan seterusnya. selain itu, pada pengaturan shutter tersebut juga ada tulisan 2" dan sebagainya, itu artinya jendela shutter tebuka selama dua detik. Pada saat jendela shutter terbuka. Jika pada saat jendela shutter masih terbuka, kamera bergerak, maka foto yang dihasilkan akan menjadi blur/kabur. Sehingga untuk pengambilan gambar dengan waktu shutter yang sangat lama di sarankan menggunakan tripod. Sedangkan untuk pengambilan gambar yang bergerak, disarankan menggunakan shutter speed yang cepat.

3. ISO
ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya yang ada. ukuran ISO biasanya dituliskan dalam angka-angka; 100, 200, 400, dan berlipat ganda hingga 6400 (ada juga kamera memiliki ISO yang berbeda. Semakin tinggi pengaturan ISO, misalnya 6400 artinya sensitifitas kamera terhadap cahaya semakin besar, artinya cahaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan gambar sedikit saja, dan sebaliknya. Jadi, jika ingin mengambil gambar pada kondisi yang gelap, sebaiknya menggunakan pengaturan ISO yang tinggi. Tetapi, penggunaan ISO yang tinggi akan menyebabkan gambar yang dihasilkan memiliki kualitas yang kurang baik, karena akan muncul bintik-bintik yang dikenal dengan nama noise.

Sebenarnya masih banyak lagi komponen-komponen DSLR yang lain seperti sensor, megapixel, image stabilizer, metering, mode kamera dan lain-lain. Tetapi ketiga komponen yang sudah di jelaskan di atas (aperture, shutter speed, ISO)-lah yang sangat berpengaruh dalam rangka pengelolaan intensitas cahaya bahasanya beribet amat hehehe Jadi, selamat mencoba ketiga pengaturan di atas, terutama bagi mahasiswa geologi atau geologist yang hobi sekali mengambil data sampai sore menjelang magrib, biasanya lagi dikejar deadline hahahhaa
oke, lebih kurang mohon maaf, sama-sama sebagai pemula...

Minggu, 11 Desember 2011

Endapan Skarn (Skarn Deposit)

Cerita kali ini adalah tentang salah satu jenis endapan mineral yang sangat penting di dunia, yaitu ENDAPAN SKARN yang dalam bahasa Inggris disebut SKARN DEPOSIT. Semua cerita ini di tulis berdasarkan pengalaman kuliah "Geologi Sumber Daya Mineral" di Jurusan Teknik Geologi FT UGM.

Endapan skarn pertama kali dinyatakan sebagai batuan metamorf hasil kontak antara batuan sedimen karbonatan dengan intrusi magma oleh ahli petrologi metamorf, dengan terjadi perubahan kandungan batuan sedimen yang kaya karbonat, besi, dan magnesium menjadi kaya akan kandungan Si, Al, Fe dan Mg dimana proses yang bekerja berupa metasomatisme pada intrusi atau di dekat intrusi batuan beku (Best 1982).

Endapan skarn terbentuk sebagai efek dari kontak antara larutan hidrothermal yang kaya silika dengan batuan sedimen yang kaya kalsium. Proses pembentukannya diawali pada keadaan temperatur 400°C - 650°C dengan mineral-mineral yang terbentuk berupa mineral calc-silicate seperti diopsid, andradit, dan wollastonit sebagai mineral-mineral utama pembawa mineral bijih (Einaudi et al. 1981). Tapi terkadang dijumpai juga pembentukan endapan skarn juga terbentuk pada temperatur yang lebih rendah, seperti endapan skarn yang kaya akan kandungan Pb-Zn (Kwak 1986). Pengaruh tekanan yang bekerja selama pembentukan endapan skarn bervariasi tergantung pada kedalaman formasi batuan.

Klasifikasi Endapan Skarn
1. Berdasarkan batuan yang terubah (tergantikan)/batuan sedimen
a. Eksoskarn
Eksoskarn adalah endapan skarn yang terbentuk di sekitar intrusi batuan beku, tidak mengalami kontak langsung dengan intrusi. Ada juga yang berpendapan bahwa yang dimaksud eksoskarn jika skarn yang terbentuk itu pada batuan non-intrusinya (misalnya pada batugampinya dsb)
b. Endoskarn
Endoskarn adalah endapan skarn yang terbentuk pada kontak batuan sedimen dengan intrusi ataupun di dalam batuan beku intrusi itu sendiri sebagai xenolith. Ada juga yg berpendapat bahwa endoskarn itu jika yang terubah menjadi skarn adalah batuan intrusinya (misalnya pada dioritnya dsb)

2. Berdasarkan jenis mineralnya
a. Skarn Prograde
Mineral skarn pada tipe ini terbentuk pada suhu yang tinggi, dan terjadi pada fase awal. Beberapa jenis mineral pencirinya adalah; garnet, klinopiroksen, biotit, humit,dan montiselit.
b. Skarn Retrograde
Minineral skarn pada tipe ini terbentuk pada suhu yang rendah. Beberapa contoh mineral pencirinya adalah; serpentin, amfibol, tremolit, epidot, klorit dan kalsit.

Endapan skarn sangat penting dalam dunia pertambangan. Sebut saja contohnya beberapa pertambangan emas besar yang beroperasi di Indonesia memiliki endapan tipe ini, misalnya PT. Freeport Indonesia, selain memiliki endapan tipe porfiri, perusahaan ini juga memiliki endapan emas tipe skarn.
Bacaan ini juga bisa dibandingkan dengan bacaan di  http://azim-indonesia.blogspot.com/2012/05/cara-mengenali-batuan-alterasi-how-to.html

Sabtu, 01 Oktober 2011

Mineralogi : Cara sederhana mengindentifikasi dan mengetahui nama mineral

Kata-kata mineral sangat terkenal dan sering kita dengar, tapi tidak semua orang tahu pengertiannya. Mineral bukan hanya terdapat di air mineral lho.. hehe. Pengertian lengkapnya mineral adalah materi penyusun bumi yang merupakan unsur atau senyawa anorganik yang terbentuk secara alami, mempunyai sifat dan komposisi kimia tertentu dan sifat fisik tertentu, mempunyai struktur dalam yang teratur dan berbentuk kristal. Jadi semua benda yang memiliki kriteria tersebut bisa kita sebut sebagai mineral, misalnya emas, perak, tembaga, kuarsa,dan buanyaaak lagi.


ini mineral uraninite (ada uraniumnya lho) sumber : ecolo.org
Dalam mengidentifikasi mineral (analisis petrologi : kenampakan megaskopis dengan mata telanjang atau bantuan loop/kaca pembesar)untuk kebutuhan penamaan mineral , ada beberapa sifat fisiknya yang harus kita ketahui, yaitu:

1. Warna
Warna merupakan kenampakan mineral karena mineral terkena cahaya normal (matahari, lampu, dll). Misalnya hematit berwarna merah, kuarsa tidak berwarna, gipsum berwarna putih, dsb.


kuarsa walaupun tidak berwarna tetap indah (sumber: kidsgen.blogspot.com)

2. Kilap
Kilap merupakan kenampakan mineral akibat memantulkan cahaya, terus apa bedanya dengan warna?? Kalo warna kan seperti yang disebutkan di atas, kalo kilap ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu; kilap logam dan kilap nonlogam.
a. Kilap logam kenampakan mineral seperti logam, misalnya mineral galena, pirit, dll
b. Kilap nonlogam terbagi menjadi (beserta contoh mineralnya) ; kilap intan (intan), kilap kaca (kuarsa), kilap sutera (gipsum), kilap damar (sphalerit), kilap mutiara (dolomit), kilap lemak (talk), kilap tanah (bauksit).


mineral emas memiliki kilap logam (sumber: galleries.com)

3. Cerat
Cerat merupakan kenampakan mineral dalam bentuk serbuk (mineralnya digerus gitu lho). Terus diamati aja warna cerat/hasil gerusan mineral-mineral tersebut, mineral yang berwarna merah belum tentu ceratnya juga warna merah lho. Misalnya biotit warnanya coklat, ceratnya malah tidak berwarna, dll.

4. Bentuk
Kenampakan bentuk kristal ini mengamatinya biasanya dengan bantuan loop/kaca pembesar, tapi kalo mineralnya gede-gede ya gak perlu. Bentuk mineral bisa dibagi menjadi; amorf (tidak berbentuk), dan berbentuk kristal ; isometrik, tetragonal, heksagonal, rhombik, monoklin, dan triklin (wah apalagi nih?? Lain waktu bakal dijelasain tentang kristal, kalau gak sabaran bisa browsing-browsing di sumber lain.. hehe).

5. Belahan
Belahan ini merupakan kenampakan mineral terbelah (beda lho sama pecah). Belahan ini bisanya berbentuk bidang yang datar dan mulus (seperti dicetak gitu lah kenampakannya). Belahan dibedakan menjadi beberapa arah (contoh mineralnya), yaitu; belahan satu arah (muskovit), dua arah (ortoklas), tiga arah (kalsit). Bidang belahan boleh saling tegak lurus ataupun tidak, contoh yang tegak lurus itu mineral halit, yang tidak tegak lurus misalnya kalsit.

amethys ini masih satu keluarga dengan kuarsa, indah sekali ya (sumber: 3dchem.com)

6. Pecahan
Pecahan itu maksudnya kalo mineral itu dipecahkan, nah kenampakan bekas pecahnya itu seperti apa. Pembagiannya (contoh mineralnya); pecahan concoidal yaitu seperti bekas pecahan botol (kuarsa), spliteri atau fibrous pecahan yang berserat (asbes), pecahan uneven atau permukaan kasar dan tidak teratur (pirit), dan terakhir hackly atau permukaan kasar dan runcing2 (perak).

7. Kekerasan
Kekerasan disini bukan tingkat kriminalitas ya.. hehe.. kekerasan adalah tingkat ketahan mineral terhadap goresan. Skala kekerasan ini sudah ada yang buat, yaitu skala mosh dari nilai 1-10 (makin besar angka tingkat kekerasan makin tinggi), yaitu; 1. Talk, 2. Gipsum, 3. Kalsit, 4. Fluorit, 5. Apatit, 6. Ortoklas, 7. Kuarsa, 8. Topaz, 9. Korundum, 10. Intan. Wow, intan selain indah ternya keras sekali ya. Cara mengindentifikasi secara sederhana kekerasan suatu mineral dengan membandingkan kekerasan mineral dengan beberapa barang yang ada disekitar kita yang sudah diketahui tingkat kekerasannya, yaitu:
a. Kuku kita : 2,5
b. Tembaga : 3
c. Pecahan kaca : 5,5 – 6
d. Pisau baja : 5,5 – 6
e. Kikir baja : 6,5 – 7
Itu alat2nya, tapi kalo punya mineral yang sudah disebutkan tadi diatas (1-10) perbandingannya pasti lebih akurat.

intan merupakan mineral dengan kekerasan tertinggi (sumber: diamond.com)


8. Berat jenis
Untuk tahu berat jenis ini kita bisa memanfaatkan beberapa alat berupa piknometer, gelas ukur, dan neraca air.

9. Daya tahan mineral untuk tidak menjadi pecah (tenacity)
Caranya dengan membengkokkan mineral2 yang ingin diidentifikasi, dibagi menjadi (contoh mineralnya):
a.Brittle yaitu hancur menjadi pecahan-pecahan runcing (kuarsa)
b.Melleable yaitu dapat diubah2 bentuknya tanpa menjadi pecah (tembaga)
c.Sectile yaitu dapat diiris-iris dengan pisau (talk)
d.Fleksibel yaitu dapat dibengkokkan tapi tidak bisa kembali sendiri seperti semula (selenit)
e.Elastis yaitu dapat dibengkokkan dan bisa kembali seperti semula dengan sendirinya (muskovit)

10. Cara mineral meneruskan cahaya
Percobaanya dengan melihat suatu benda dari sebalik mineral yang akan diidentifikasi, pembagiannya yaitu:
a.Mineral transparan jika benda yang ada disebalik mineral dapat terlihat jelas
b.Mineral translucent jika benda yang ada di sebalik mineral tidak terlihat jelas, atau terlihat sangat samar2
c.Mineral opaq jika benda yang ada di sebalik mineral tidak terlihat sama sekali, karena minerl tidak meneruskan cahaya

11. Sifat lainnya: rasa, bau, kelistrikan, kemagnetan, daya hantar panas, keradioaktifan, posporisensi, dan fluorinsensi
Sifat lain-lain yang mudah diidentifikasi yaitu rasa (dicicipi jangan dimakan tapi ya.. hehe), baunya dengan dicium (mesra sekali sama mineral), dan kemagnetan dengan medekatkan ke magnet apakah ditarik kuat oleh magnet (feromagnetik), ditarik lemah oleh magnet (paramagnetik) atau tidak ditarik (diamagnetik).

Ternyata sifat-sifat mineral ini unik-unik ya.... banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk mengidentifikasi suatu mineral. Setelah sifat-sifat mineral teridentifikasi dengan baik, untuk penamaan mineral dapat dibandingkan dengan beberapa literatur, kalo saya sukanya pakai literatur karangan Pak Edward Henry Kraus, dkk. Judul : Mineralogy an Introduction to the study of Minerals and Crystals. Untuk identifikasi level megaskopis buku tersebut sangat recomended.

Keterangan: pengetahuan sederhana ini saya dapatkan di semester 1 kuliah geologi dasar yang diampu oleh Pak Soetoto, teknik geologi UGM, jika ada yang salah mohon dikoreksi.
Semoga sukses dan sehat selalu teman-teman semua.